Separatis Uighur dari Xinjiang rayu mujahid Indonesia
2014-11-24
Oleh Martin Sieff
Pasukan keamanan Tiongkok menghadapi masalah baru di
Daerah Otonomi Uighur yang
diwabahi teror: para separatis sedang mencoba membujuk para mujahid
Indonesia dari Mujahidin Indonesia Timur [MIT] agar datang dan
menguatkan perang gerilya mereka melawan Beijing.
“Bangsa Uighur melirik ke Indonesia untuk bimbingan teror,” dilaporkan
Asia Times Online.
“Pada pertengahan September, pihak berwajib Indonesia menangkap empat warga Uighur dari Tiongkok barat bersama dengan empat
tersangka terorisme lokal di
Sulawesi Tengah,” tulis Zachary Abuza, kepala Southeast Asia Analytics,
dalam artikel itu. “Para warga Uighur itu bepergian menggunakan paspor
Turki palsu yang dibuat di Thailand dan mendarat di Sulawesi melewati
rute melingkar yang meliputi Kamboja, Thailand, Malaysia, dan
Indonesia.”
Penangkapan itu terjadi saat para mujahid Uighur Muslim meningkatkan
kampanye teror mereka melawan para imigran Tionghoa Han di Xinjiang.
Empat pria etnis minoritas Uighur bersenjatakan pisau dan peledak
menyerang sebuah pasar petani di daerah Xinjiang, Tiongkok bagian barat
laut, yang dilanda kerusuhan pekan ini, menyebabkan tewasnya 22 orang,
termasuk petugas kepolisian dan juga penyerang sendiri, dilaporkan Radio
Free Asia [RFA] pada 18 Oktober.
Penggerebekan tanggal 12 Oktober terhadap Pusat Dagang Petani di
lingkungan mayoritas Tionghoa Han di Maralbeshi di prefektur Kashgar
menyebabkan peningkatan keamanan baru di daerah itu menyusul peningkatan
kekerasan yang dipicu oleh ketegangan etnis yang menyebabkan 300 orang
tewas dalam 1½ tahun terakhir, kata RFA.
Empat warga Uighur menikam sejumlah petugas polisi saat mereka
menerjang masuk ke pasar kota melontarkan peledak dan menyerang para
pemilik kios kebangsaan Tionghoa Han sebelum kemudian ditembak mati,
kata para petugas polisi di kantor polisi Chongqurchaq dan Konabazar di
Maralbeshi, menurut laporan tersebut.
‘Pukul Keras’ hasilkan kebencian
Gelombang serangan terbaru ini mengindikasikan bahwa kampanye “Pukul
Keras” Tiongkok untuk menekan perluasan praktik tradisional Islam di
Xinjiang menjadi bumerang, malah membuahkan kebencian dan sumber baru
calon anggota bagi kelompok keras jihad.
“Kekuatan organisasi teroris Islam sedang meningkat di daerah
Xinjiang, Tiongkok,” diperingatkan Jai Kumar Verma, seorang analis, pada
25 Oktober.
Beberapa kelompok Uighur, termasuk Gerakan Islam Turkistan Timur
[ETIM], Organisasi Pembebasan Turkistan Timur [ETLO], Barisan
Revolusioner Turkistan Timur Bersatu [URFET], dan Organisasi Pembebasan
Uighur [ULO] melakukan insiden-insiden terorisme meski dikekang oleh
pihak berwajib Tiongkok. Beberapa kelompok teroris dan pecahan Uighur
lainnya bergabung dengan organisasi-organisasi ini,” tulis Verma.
Keempat tersangka yang ditangkap di Indonesia tampaknya sedang
mencoba untuk berhubungan dengan MIT, sebuah kelompok pecahan dari
Jemaah Islamiyah [JI] lama yang dipimpin oleh Santoso, salah satu
tersangka terorisme paling dicari di Indonesia, menurut Abuza.
JI kehilangan kekuatan di Indonesia
Satu dasawarsa yang lalu, JI merupakan ancaman keamanan yang
signifikan untuk Indonesia, yang 250 juta penduduknya adalah bangsa
Muslim terbanyak dan merupakan negara demokrasi Muslim terbesar di
dunia. Namun, gabungan dari pertumbuhan ekonomi yang kuat dan
langkah-langkah keamanan yang efektif yang diambil oleh pemerintahan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hakikatnya menyapu bersih
kelompok tersebut.
JI, yang pernah diakui sebagai organisasi teror paling mematikan di
Asia Tenggara, telah berhasil dihancurkan oleh operasi-operasi
kontraterorisme yang dipimpin polisi, dan didukung pihak asing, yang
berujung pada penangkapan atau pembunuhan banyak pemimpin kelompok
tersebut, tulis Abuza.
“Pejabat kontraterorisme Indonesia yakin bahwa keempat warga Uighur
itu hanya ada di Indonesia untuk menerima pelatihan dalam pembuatan IED [Improvised Explosive Device
atau Perangkat Peledak Rakitan] dan operasi paramiliter yang dapat
digunakan dalam kampanye mereka melawan pihak berwajib di Tiongkok,”
lanjutnya. “Pejabat Tiongkok terus menegaskan, tanpa memberikan banyak
bukti, bahwa semakin banyak warga Uighur kini mencari pelatihan dari
ISIS [Negara Islam Irak & Suriah].”
Para mujahid Indonesia yang saat ini lemah dan tercerai-berai tidak
mendapat manfaat bagi perjuangan mereka sendiri melawan Jakarta dengan
mengalihkan sumber daya atau perencana teror ke tempat jauh seperti
Xinjiang, kata Thomas M. Sanderson, salah satu direktur Proyek Ancaman
Transnasional di Pusat Studi dan Kajian Internasional, kepada Asia
Pacific Defense Forum [APDF].
“Kepentingan mereka adalah mendukung sesama Muslim dalam menghadapi
pengekangan budaya dan agama yang dilakukan oleh Beijing yang tidak
menyukai kelompok mana pun selain mayoritas etnis Han, dan, berdasarkan
identitas uniknya, memiliki kemampuan mengumpulkan dan memobilisasi
anggota-anggota lain dalam komunitas Uighur,” kata Sanderson kepada
APDF.
Abuza mengatakan Tiongkok diduga akan meminta ekstradisi atas keempat
tersangka itu, sebuah prosedur yang berhasil mereka jalankan pada masa
lampau dengan bangsa-bangsa Asia Tenggara lainnya.
Namun, perselisihan itu mungkin menyebabkan kepeningan politik bagi Presiden baru Indonesia yang idealistis dan populer,
Joko Widodo.
“Pemerintah Indonesia mungkin akan menghadapi tekanan domestik untuk
tidak mengekstradisi mereka karena kebijakan garis keras Tiongkok di
Xinjiang yang hampir mengkriminalisasi praktik Islam,” tulis Abuza.
“Namun, ada potensi hikmah kontraterorisme,” tambah Abuza. “Ketika
para separatis Uighur menjadi semakin transnasional, situasi itu dapat
memaksa dinas keamanan Beijing untuk meminta bantuan dari rekan-rekan
imbangan mereka di kawasan.”
Dia mengatakan kampanye “Pukul Keras” Tiongkok telah mengakibatkan meningkatnya kekerasan.
Serangan Uighur di Tiongkok
• Pada 28 Oktober 2013, separatis Uighur menabrakkan sebuah mobil di
Lapangan Tiananmen di Beijing, menewaskan lima dan melukai 38 orang;
• Pada 2 Maret, 29 orang tewas dan 143 terluka ketika penyerang-penyerang bersenjatakan pisau menyerang stasiun kereta Kunming;
• Pada akhir April, sebuah bom mobil di stasiun kereta Urumuqi
menewaskan tiga dan melukai 79 orang saat Presiden Xi Jinping
mengunjungi provinsi yang sedang bergolak itu;
• Pada 23 Mei, penyerang melemparkan IED dari dua mobil jenis SUV
yang kemudian mereka tabrakkan ke sebuah pasar yang ramai di Urumuqi,
menewaskan 31 dan melukai 94 orang;
• Pada 1 Agustus, seorang Imam Uighur pro-Beijing ditikam mati di Kashgar;
• Pada 22 September, tiga bom menewaskan dua dan melukai hampir 24 orang di Luntai, Xinjiang.
Sebaliknya, sejak serangan 11 September di Amerika Serikat, dinas
keamanan di seluruh Asia Tenggara telah melakukan pekerjaan yang relatif
baik dalam menumpas kelompok teror regional atau menegosiasikan solusi
politik dengan pemberontak separatis.
“Prestasi tersebut sebagian besar dihasilkan melalui profesionalisasi
dinas keamanan regional, komitmen lebih besar untuk kerja sama
internasional, pengumpulan intelijen yang membaik, pemberdayaan kaum
moderat, dan reformasi hukum,” disimpulkan Abuza. “Sudah jelas bagi
sebagian besar orang, selain dari kepemimpinan Tiongkok, bahwa strategi
kontraterorisme mereka saat ini yang kejam hanya lebih memicu
radikalisme Uighur dan ketertautan kelompok teror regional.”
Laporan RFA mendokumentasikan penindasan Tiongkok yang terus berlanjut.
Para pria Uighur yang menjalankan serangan Maralbeshi mungkin telah
merasa frustrasi oleh pemenjaraan lebih dari 1.000 muda-mudi Uighur di
daerah itu sejak bulan Mei, ketika pihak berwajib meluncurkan kampanye
antiteror, kata laporan tersebut.
Haruskah Tiongkok mundur dari kampanye “Pukul Keras”-nya agar
menciptakan perdamaian di tanah air Uighur? Sampaikan pendapat Anda di
bagian komentar di bawah ini.